Peraih Nobel Perdamaian Kailash: Setiap Anak [Seharusnya] Bebas Menjadi Anak-Anak


Jakarta, 16 Desember 2018 – Lebih dari 152 juta anak diperbudak, disembunyikan dalam pabrik-pabrik di seluruh dunia dan dipaksa membuat barang-barang yang Anda beli dan gunakan setiap hari. Kopi yang Anda minum, pakaian yang Anda pakai, makeup yang Anda gunakan, mungkin dibuat oleh anak-anak yang diperbudak. Selain itu, banyak produk-produk lain yang berisiko terlibat dalam perbudakan anak, seperti gula, cokelat, smartphone, perhiasan emas, mainan, produk yang dibuat dari kulit, sepatu, dan masih banyak lagi. Namun, apa yang harus kita lakukan demi membayar sebuah kebebasan?

“Saya punya satu misi dalam hidup saya, setiap anak [seharusnya] bebas menjadi anak-anak. Bebas tertawa, dan menangis, bebas pergi ke sekolah, bebas bermimpi,” kata peraih Nobel Perdamaian Kailash Satyarthi dalam dokumenter “The Price of Free”.

Dokumenter yang memenangkan 2018 U.S. Documentary Grand Jury Prize pada Sundance Film Festival ini memperlihatkan perjuangan Kailash dan timnya dalam menyelidiki, mendobrak, dan membebaskan anak-anak dari tempat mereka diperbudak. Minggu (16/12) lalu, Emancipate Indonesia bekerja sama dengan Indorelawan.org, Indoesia Future Leader, Campaign, serta Conclave mengadakan screening “The Price of Free” dan diskusi di Conclave Co-Working Space Arteri.

"Sudah saatnya pelaku usaha untuk melakukan aktivitas yang mendukung pembangunan berkelanjutan. Dalam pembangunan berkelanjutan, bukan hanya keuntungan finansial yang harus mereka kejar, tetapi juga pelestarian lingkungan hidup dan juga kesejahteraan sosial. Isu pekerja anak di bawah umur adalah salah satu dari banyak persoalan dalam pembangunan berkelanjutan yang harus kita eliminasi, bersamaan dengan perlunya mengeliminasi kemiskinan dan kelaparan. Hal ini tidak akan terjadi apabila pelaku usaha masih menempatkan keuntungan finansial menjadi nomor pertama, seharusnya menempatkan pelestarian lingkungan hidup dan kesejahteraan sosial terlebih dahulu. Karena dua hal ini yang akan membuat para pelaku usaha mendapatkan keuntungan finansial," kata Rahyang Nusantara, pembicara dari SDSN Youth Indonesia dalam diskusi yang diadakan usai dokumenter "The Price of Free" ditayangkan.

"Perkara Child Labor masih sering diperdebatkan. Pekerja anak sering dilihat sebagai act of service anak dalam membantu orang tua mereka. Dan dalam keadaan sosial ekonomi tertentu memang anak-anak terpaksa ikut bekerja membantu orang tua mereka. Saya sendiri dulu pernah bekerja saat duduk di bangku sekolah dasar. Karena itu ada pembeda antara child labour dan child work. Kalau child labour sifatnya exploitatif dan berbahaya untuk anak-anak sering kali pula merenggut hak-hak mereka (sebagai anak) untuk bermain dan bersekolah. Sedangkan child work partisipasi positif anak dalam kegiatan ekonomi, jam kerja nya tidak panjang, tidak membahayakan, dan bermanfaat untuk perkembangan anak itu sendiri. Penting untuk kita mengenali perbedaan ini dan lebih peka jika melihat child labour di sekitar kita," jelas Amalia Suri, pembicara dari Emancipate dalam screening dan diskusi film ini.

"Saya pertama melihat Kailash di One Young World 2018. Perjuangan Kailash menunjukkan bahwa perbudakan memang masih ada dan anak-anak berhak bebas dari eksploitasi dan berhak atas haknya sesuai Konvensi Hak Anak," kata Margianta, One Young World Ambassador dan Founder Emancipate Indonesia, sebagai moderator dalam screening dan diskusi yang diadakan dalam rangka Festival Bulan Relawan ini.

“Jika Anda melihat bentuk penindasan dan eksploitasi anak apapun, di mana pun, jangan hanya diam,” tutur Kailash dalam “The Price of Free.” “Kita tidak bisa mengakhiri perbudakan anak, kecuali kita semua memperjuangkannya. Berjuanglah bersama saya.”


Screening Dokumenter “The Price of Free” dan Diskusi

Lokasi : CONCLAVE Co-Working Space Arter

Waktu : Minggu, 16 Desember 2018, pukul 14.30 WIB

Pembicara : Rahyang Nusantara (SDSN Youth Indonesia) & Amalia Suri (Emancipate Indonesia)

Moderator : Margianta S.J.D. (One Young World Ambassador)


Tentang Emancipate Indonesia

Emancipate Indonesia adalah organisasi pemuda Indonesia yang berfokus pada isu perbudakan modern, sebagai follow up dari partisipasi foundernya dalam Students Opposing Slavery Summit di Washington D.C.

Emancipate.id | Instagram @emancipate.id


Tentang SDSN Youth Indonesia

SDSN Youth adalah inisiatif UN Sustainable Development Solutions Network, program dari Sekjen PBB 2012, untuk mengedukasi pemuda seputar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

sdsnyouth.org | Instagram: @sdsnyouthid

Tentang One Young World

One Young World adalah organisasi asal UK yang mengumpulkan pemimpin muda dari seluruh dunia dalam Summit tahunan, untuk memfasilitasi pertukaran ide dan jalinan koneksi untuk menciptakan perubahan positif. One Young World disebut sebagai pertemuan pemuda terbesar dengan dampak terhebat di dunia.

Oneyoungworld.com | Instagram: @oneyoungworld