Pemuda Menyingkap Kenyataan Industri Rokok Bersama Dubes Hungaria

Rilis pers – Oleh Tim PR Emancipate Indonesia

Jakarta, 28 September 2018 – Pemuda dari berbagai organisasi dan komunitas membahas dampak industri rokok dari berbagai perspektif pada diskusi bertajuk “Climate Change, Modern Slavery, and Health Decadence in Tobacco Industry: Overcoming Development Challenges Through Tobacco Control“ di Kedutaan Besar Hungaria, Jakarta (28/09).

Judith Pach, Duta Besar Hungaria untuk Indonesia, menjelaskan bahwa sejak 2010 Hungaria telah menerapkan berbagai kebijakan untuk mengendalikan rokok secara progresif. Kebijakankebijakan tersebut, di antaranya melalui monitor segala kebiasaan pengguna rokok dan dampak kesehatan yang mereka alami, penerapan kebijakan bebas asap rokok pada fasilitas publik, program rehabilitasi umum bagi pecandu rokok, kampanye bahaya rokok dalam berbagai media, larangan segala bentuk iklan, promosi, dan sponsor rokok, serta kenaikan cukai rokok hingga 75%.

“Regulasi ini hanya memungkinkan perusahaan rokok untuk melakukan kegiatan CSR tanpa mencantumkan logo mereka sama sekali. Tidak seperti di sini (Indonesia).” ujar Judith. Melalui regulasi bertahap tersebut, hingga hari ini Hungaria berhasil menurunkan angka perokok aktif dari 35% menjadi 25% dan mengurangi jumlah perokok usia 18 tahun menjadi 11%.

Muamar Vebry, selaku Manajer Program Perubahan Iklim, Keamanan Pangan dan Manajemen Bencana untuk Uni Eropa di Indonesia dan Brunei Darussalam, ikut menguraikan hubungan pertainan tembakau dengan lingkungan hidup di Indonesia. Corak bertani monokultur yang didukung oleh industri rokok, ujarnya, secara tidak langsung menyebabkan berbagai masalah ekologis, seperti menurunnya tingkat hewan penyerbuk, hilangnya predator alami, dan memicu munculnya deforestasi.

"Pertanian monokultur tumbuhan seperti sawit, tembakau dan lainnya adalah cara bertani dengan cara menanam satu jenis tanaman di lahan yang luas dengan tujuan untuk mencapai efisiensi perawatan komoditas. Alih menggunakan teknik bertani monokultur, perawatan lahan yang bercorak pada konsep agrobiodiversitas justru lebih diperlukan untuk mencegah deforestasi."

Isu lingkungan bukan satu-satunya masalah dalam pengendalian lahan tembakau dan industri rokok di Indonesia, Amalia Suri, Sekretaris dari Emancipate Indonesia yang berfokus pada perbudakan modern, menegaskan bahwa terdapat banyak praktek ketenagakerjaan yang tidak adil di industri rokok.

"Sebagai industri berpenghasilan cukup besar di Indonesia, industri rokok masih memberi upah sangat kecil kepada petani tembakau dan buruh pabrik mereka."

Amelia menjelaskan, praktek kerja di pertanian tembakau juga berkutat pada kasus pekerja anak. Mengutip hasil penelitian Human Rights Watch di Indonesia tahun 2016, ditemukan fakta bahwa pekerja anak yang aktif terlibat dalam industri tembakau rentan mengalami penyakit kulit dan gangguan pada perkembangan otak, atau yang disebut green tobacco sickness.

"Pekerja anak di sektor pertanian tembakau umumnya bekerja sejak umur 8 tahun. Mereka terpapar kondisi berbahaya, dan umumnya menjelang panen mereka diminta untuk membantu orang tuanya untuk bolos sekolah." pungkas Amelia.

Industri rokok juga menghasilkan masalah lain, seperti tengkulak yang bermain harga semenamena kepada petani, biaya produksi yang mahal, mekanisasi yang berdampak pada PHK buruh, maraknya impor tembakau, hingga sensitivitas tanaman tembakau pada pergantian cuaca.

"Rekomendasi kami adalah upaya diversifikasi produk tembakau selain rokok, seperti yang tertera dalam FCTC. Pemerintah juga harus hadir untuk membantu petani tembakau dan buruh industri rokok berpindah ke sektor lainnya."

Melihat dampak negatif industri rokok terhadap lingkungan, pekerja, dan kesehatan, diperlukan langkah kolektif dari masyarakat sipil, khususnya pemuda untuk mengubahnya. Sementara menurut Margianta Surahman, yang akrab disapa Gian, selaku Juru Bicara Gerakan Muda FCTC menyatakan bahwa usaha untuk mengantisipasi industri rokok mirip dengan kisah David melawan Goliath. Industri rokok, tegasnya, selalu mengincar anak muda sebagai target pasar utama.

“Iklan, konser, beasiswa, dan kegiatan lain yang mereka adakan semuanya dekat dengan anak muda. Ini bukti nyata mereka menargetkan anak muda untuk menolerir keberadaan mereka dan menjadi perokok pemula,” ujar Gian.

Hari ini, setidaknya 70% perokok aktif di Indonesia merokok sebelum 19 tahun. Indonesia sendiri masih merupakan satu-satunya negara di ASEAN yang masih memperbolehkan iklan rokok di ruang publik secara masif. Kondisi ini mendorong Indonesia menjadi negara dengan jumlah perokok terbanyak di wilayah ASEAN, yakni dengan 62,3 juta perokok aktif pada hari ini. Angka ini terpaut hingga 40 juta dengan Filipina dan Thailand di urutan kedua dan ketiga.

Layaknya David yang cerdik dalam melawan Goliath, sejak 2015 Gian dan kawan-kawannya membangun jejaring di beberapa wilayah Indonesia untuk mendukung upaya pengendalian tembakau, salah satunya dengan mendorong pemerintah menandatangani FCTC (Framework Convention on Tobacco Control).

Hingga hari ini beberapa keberhasilan Gerakan Muda FCTC, di antaranya adalah mengadakan pertunjukkan wayang di 25 kota, kegiatan time capsule di 17 kota, dan mengumpulkan lebih dari 11.000 surat yang mendorong presiden untuk menandatangani FCTC.

“Anak muda sangatlah kreatif dan mudah memobilisasi diri, sehingga sanggup menyuarakan kebohongan industri rokok yang merusak kesehatan generasi muda dan menjadikan petani dan buruh sebagai tameng mereka,” Ujar Gian.

Kegiatan diskusi yang merupakan bagian dari Climate Diplomacy Week ini merupakan kerja sama antara Kedutaan Besar Hungaria, Uni Eropa, dan World Merit Indonesia.